Mengapa Tidur di Kendaraan Tidak Sebaik Tidur di Tempat Tidur
OtoHans - Perjalanan jauh sering kali membuat tubuh merasa
lelah dan menginginkan kenyamanan tidur yang cepat. Bagi sebagian orang, tidur
dalam kendaraan seperti mobil, bus, atau kereta bisa menjadi solusi untuk
mengatasi rasa kantuk, terutama saat melakukan perjalanan malam hari. Namun,
meskipun kita bisa memejamkan mata dan merasa terlelap, sering kali bangun
tidur terasa kurang segar dan tubuh tetap merasa lelah. Kenapa hal ini bisa
terjadi? Artikel ini akan membahas berbagai faktor yang memengaruhi kualitas
tidur kita ketika berada dalam kendaraan.
Tidur di Kendaraan vs Tidur di Tempat Tidur
Secara teknis, tidur di kendaraan mungkin
membuatmu merasa sedikit lebih segar, tetapi kualitas tidur yang didapatkan
biasanya tidak optimal. Ini karena banyaknya faktor yang memengaruhi tubuh dan
otak dalam mencapai tidur berkualitas. Penurunan kualitas tidur ini sebenarnya
bisa dijelaskan oleh beberapa elemen penting yang berkaitan dengan lingkungan
sekitar, posisi tubuh, serta respons alami otak.
1. Otak Masih Waspada di Lingkungan Baru
Salah satu alasan utama kenapa tidur di
kendaraan terasa tidak nyenyak adalah karena otak kita tetap mempertahankan
kewaspadaan, bahkan saat kita tertidur. Fenomena ini dikenal dengan istilah first-night effect, yang merujuk pada
respons otak terhadap lingkungan yang baru dan tidak familiar.
Menurut penelitian, ketika kita tidur di
lingkungan yang berbeda dari biasanya, otak akan tetap "terjaga"
meskipun kita sedang tidur. Salah satu bagian otak akan lebih waspada terhadap
kemungkinan bahaya, sementara bagian lainnya berfungsi untuk mengatur tidur.
Ini adalah mekanisme perlindungan evolusioner yang membantu manusia tetap peka
terhadap potensi ancaman, seperti suara atau gerakan yang tidak biasa. Dalam
konteks perjalanan, kendaraan yang bergerak, suara mesin, serta orang-orang di
sekitar kita bisa membuat otak tetap dalam kondisi waspada, sehingga tidur kita
terasa lebih ringan dan mudah terbangun.
Misalnya, dalam sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Masako Tamaki dan kolega, ditemukan bahwa meskipun seseorang
tidur, bagian dari otak mereka tetap aktif, memproses rangsangan yang berasal
dari lingkungan sekitar. Hal inilah yang menyebabkan kita merasa tidur yang
kita dapatkan tidak begitu menyegarkan.

2. Posisi Tubuh yang Tidak Ideal
Faktor kedua yang sangat memengaruhi kualitas
tidur di kendaraan adalah posisi tubuh. Ketika tidur di kursi mobil, bus, atau
kereta, posisi tubuh umumnya lebih tertekuk atau duduk tegak, yang jelas
berbeda dari posisi tidur berbaring yang biasa kita lakukan di tempat tidur.
Posisi ini tidak memberikan dukungan yang cukup untuk tubuh, terutama leher dan
punggung.
Posisi tubuh yang tidak ideal dapat
menyebabkan ketegangan otot, yang bisa memengaruhi kualitas tidur. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Yuan Zhang dkk. (2022), ditemukan bahwa posisi
tidur yang tidak optimal bisa memengaruhi kualitas tidur seseorang. Selain itu,
posisi tubuh yang canggung juga meningkatkan kemungkinan terbangun lebih sering
selama tidur.
Misalnya, dalam perjalanan jauh menggunakan
mobil, banyak orang yang merasa lehernya sakit atau punggungnya terasa pegal
setelah tidur. Ini terjadi karena tubuh tidak memiliki dukungan yang cukup
untuk menjaga postur tubuh tetap nyaman, berbeda dengan ketika tidur di tempat
tidur yang empuk dan memiliki bantal untuk mendukung leher.
3. Getaran dan Kebisingan Kendaraan
Tidak hanya posisi tubuh, lingkungan tidur
yang penuh dengan rangsangan sensorik juga menjadi faktor utama yang mengganggu
tidur di kendaraan. Getaran kendaraan, suara mesin, percakapan penumpang, serta
perubahan kecepatan kendaraan bisa memengaruhi kualitas tidur secara
signifikan. Walaupun beberapa orang mungkin sudah terbiasa dengan suara dan
getaran kendaraan, otak tetap memproses rangsangan tersebut saat kita tidur.
Penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet (2013) menunjukkan bahwa
kebisingan dapat meningkatkan frekuensi micro-arousals,
yaitu gangguan tidur yang sangat singkat namun cukup mengganggu. Meskipun
gangguan ini tidak selalu kita sadari, tetapi cukup untuk menurunkan kualitas
tidur dan menyebabkan kita merasa tidak segar ketika bangun.
Contohnya, saat tidur dalam perjalanan dengan
mobil, suara klakson, percakapan di dalam kendaraan, atau suara mesin yang
berisik bisa mengganggu tidur dan menyebabkan kita terbangun beberapa kali
sepanjang perjalanan. Hal ini jelas berbeda jika kita tidur di lingkungan yang
jauh lebih tenang dan stabil.
4. Gangguan pada Ritme Sirkadian
Ritme sirkadian adalah jam biologis tubuh yang
mengatur siklus tidur dan terjaga. Biasanya, kita merasa mengantuk pada
waktu-waktu tertentu dan terjaga di waktu lainnya berdasarkan ritme ini. Namun,
dalam perjalanan jauh, terutama jika kamu tidur pada waktu yang tidak biasa
atau di lingkungan dengan pencahayaan yang berubah-ubah, ritme sirkadian tubuh
bisa terganggu.
Ketika kamu mencoba tidur di kendaraan,
tubuhmu mungkin harus tidur pada waktu yang tidak sesuai dengan jadwal tidur
normal, dan lingkungan yang berubah-ubah seperti cahaya yang masuk melalui
jendela kendaraan juga dapat mengganggu kualitas tidur. Paparan cahaya yang
terang atau perubahan pencahayaan selama perjalanan bisa membuat tubuh
kesulitan untuk memasuki fase tidur yang dalam.
Menurut National Institute of Neurological
Disorders and Stroke, gangguan pada ritme sirkadian dapat memengaruhi kualitas
tidur dan membuat kita merasa lebih lelah setelah bangun, meskipun kita tidur
selama beberapa jam.
5. Kurangnya Fase Tidur Dalam (Deep Sleep)
Tidur yang berkualitas terdiri dari beberapa
tahap, salah satunya adalah fase tidur dalam (deep sleep) dan fase REM (rapid eye movement). Kedua fase
ini sangat penting untuk pemulihan tubuh dan peningkatan fungsi kognitif.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan, seperti
kebisingan, gerakan kendaraan, dan gangguan lainnya, dapat mengurangi durasi
tidur dalam.
Ketika kita tidur di kendaraan,
gangguan-gangguan ini membuat tubuh kita sulit memasuki fase tidur dalam.
Padahal, tidur dalam adalah fase yang paling penting untuk pemulihan tubuh dan
otak. Jika fase ini terlewatkan atau terganggu, kita mungkin akan merasa lelah
atau mengantuk meskipun telah tidur beberapa jam selama perjalanan.
Contoh yang sering terjadi adalah ketika
seseorang tidur dalam perjalanan jauh, mereka mungkin terbangun beberapa kali
tanpa sadar, yang menyebabkan fase tidur dalam terpotong. Akibatnya, tubuh
tidak mendapatkan pemulihan yang optimal dan kita tetap merasa lelah setelah bangun.
Tips Meningkatkan Kualitas Tidur Saat Perjalanan
Meskipun tidur di kendaraan cenderung kurang
berkualitas dibandingkan tidur di tempat tidur, ada beberapa langkah yang bisa
kamu coba untuk meningkatkan kualitas tidur selama perjalanan. Berikut beberapa
tips yang dapat membantu:
1. Posisi Tubuh yang Lebih Nyaman
Jika memungkinkan, cobalah untuk menemukan
posisi duduk yang lebih nyaman. Gunakan bantal atau penyangga leher untuk
mendukung kepala dan leher agar tidak merasa pegal. Dalam beberapa kasus, ada
kursi yang bisa disesuaikan untuk memberikan posisi tidur yang lebih rileks.
2. Minimalkan Gangguan Suara
Gunakan earphone atau penutup telinga untuk
mengurangi kebisingan yang datang dari lingkungan sekitar. Suara kendaraan atau
percakapan orang lain bisa mengganggu tidur, jadi penting untuk mencoba
menciptakan suasana yang lebih tenang.
3. Gunakan Masker Mata
Menggunakan masker mata dapat membantu
menghalangi cahaya yang mengganggu tidur, terutama jika perjalanan dilakukan
pada siang hari atau dalam cahaya terang. Hal ini juga dapat membantu otak
memasuki fase tidur yang lebih dalam.
4. Sesuaikan Jadwal Tidur
Jika kamu bisa mengatur waktu perjalanan,
cobalah untuk tidur pada waktu yang lebih sesuai dengan ritme tubuhmu. Jangan
memaksakan tidur di luar jam biologis tubuh agar tidak mengganggu ritme
sirkadianmu.
5. Cobalah Relaksasi Sebelum Tidur
Sebelum tidur, lakukan beberapa latihan
pernapasan atau teknik relaksasi untuk membantu tubuh dan pikiran lebih rileks,
sehingga tidur lebih mudah didapatkan.
Kesimpulan
Tidur
dalam kendaraan memang bisa membantu mengurangi rasa kantuk selama perjalanan
panjang, tetapi kualitas tidur yang diperoleh seringkali tidak optimal. Hal ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kewaspadaan otak terhadap lingkungan
baru, posisi tubuh yang kurang ideal, kebisingan dan getaran kendaraan, serta
gangguan ritme sirkadian. Meskipun tidur di kendaraan tidak sebaik tidur di
tempat tidur, dengan beberapa penyesuaian dan tips di atas, kualitas tidurmu
selama perjalanan bisa sedikit meningkat.
Referensi
National Sleep Foundation. “Sleep Environment and Sleep Quality.” Diakses Maret 2026.
Masako Tamaki et al., “Night Watch in One Brain Hemisphere During Sleep Associated With the First-Night Effect in Humans,” Current Biology 26, no. 9 (April 30, 2016): 1190–94, https://doi.org/10.1016/j.cub.2016.02.063.
Yuan Zhang et al., “The Relationship Between Sleeping Position and Sleep Quality: A Flexible Sensor-Based Study,” Sensors 22, no. 16 (August 19, 2022): 6220, https://doi.org/10.3390/s22166220.
Basner, Mathias, Wolfgang Babisch, Adrian Davis, Mark Brink, Charlotte Clark, Sabine Janssen, and Stephen Stansfeld. “Auditory and Non-auditory Effects of Noise on Health.” The Lancet 383, no. 9925 (October 29, 2013): 1325–32. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(13)61613-x.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. “Brain Basics: Understanding Sleep.” Diakses Maret 2026.
Institute Of Medicine. "Sleep Disorders and Sleep Deprivation, National Academies Press eBooks, 2006." https://doi.org/10.17226/11617.



0 Comments:
Posting Komentar